Selasa, 29 September 2015

Esai - "Syafaat"

"SYAFAAT"


Sebelumnya mohon maaf dengan sangat. Mungkin dari sekian banyak ibadah kita selama di dunia, baik ibadah mahdoh maupun muamalah, tak ada satupun yang bisa kita andalkan saat menghadap sang Rabb' di yaumil akhir sana. Kalau misalkan ada tolong sebutkan! Syahadat kita? Coba kita tanya pada diri kita masing-masing, apakah syahadat kita sudah benar-benar meyakini bahwa Tuhan kita adalah Allah Ta'alla saja, atau ada "tuhan-tuhan" yang lain yang secara tidak sadar justru kita tuhankan. Sebab di Republik ini banyak sekali sesuatu yang telah di jadikan "tuhan", seperti; uang, jabatan, kekuasaan dan sebagainya. Sekali lagi tanyakan pada hati nurani kita yang paling dalam, masih adakah sesuatu selain Allah yang kita tuhankan dalam kalbu kita. Jangan sampai kalimat syahadat hanya di lisan saja tanpa di hayati dan di implementasi dalam kehidupan kita nyata sehari-hari.

Kemudian apakah kita juga benar telah mengakui bahwa nabi Muhammad SAW adalah rasul utusan Allah?' jika kita sudah mengakui bahwa Muhammad rasulullah lalu apakah kita juga sedia mengikuti suri tauladannya?" Pada kenyataannya kita memang rajin bersholawat kepada baginda nabi namun kita enggan mencontoh perilaku arif beliau. Hanya sekedar membaca dan mendengar tentang riwayat kehidupan beliau namun ogah untuk mempraktekkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam menyampaikan dakwah agama, cara nabi adalah mengajak umat untuk mengenal islam dan menjalankan syariatnya. Yang namanya mengajak itu dengan cara santun dan damai tanpa paksaan. Beda dengan orang sekarang, mereka tidak mengajak umat untuk berislam tapi mengejek kepercayaan lain agar mereka mau masuk islam. Ini kan intoleran dan bertolak belakang dengan caranya kanjeng nabi. Muhammad di utus dengan membawa panji rahmatan lil'alamin, Ia menjadi rahmat dan cahaya bagi semesta maka segala sesuatu yang kita perbuat hendaknya meniru apa yang di ajarkan Nabi.

Kemudian soal sholat? Apakah sholat yang kita kerjakan selama ini benar-benar sudah khusyu' dan tawadhuk? Apakah saat sholat pikiran kita sudah terlepas dari dunia, dan hati kita hanya mengingat dan menghadap Allah azza wa jaala. Ataukah hanya raga kita yang jengkang-jengking melakukan gerakan sholat namun pikiran dan hati kita melayang kemana-mana. Mikirin makan, mikir utang, mikir motor di parkiran dan entah mikir apalagi. Atau mungkin juga sholat kita hanya sebatas untuk menggugurkan kewajiban saja, yang penting kan sholat, urusan khusyuk tidaknya itu belakangan. Sholat hanya di anggap sebagai rutinitas sehari-hari bukan di jadikan sebuah kewajiban sekaligus kebutuhan kita sebagai manusia dan hamba. Allah sama sekali tidak butuh ibadah kita, tapi kita yang butuh DIA, butuh sekali sebab kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa seizin-Nya. Kita juga tidak punya apa-apa jika tidak "di titipi" sama Allah. Jadi sudah baikkah sholat kita, hanya hati kecil kita sendiri yang mengetahuinya.

Lalu bagaimana dengan ibadah shaum kita? Allah hanya mewajibkan kita umat muslim untuk berpuasa sebulan penuh dalam kurun setahun sekali yaitu di bulan Ramadhan. Mungkin, untuk puasa wajib kita lancar-lancar saja, sebab puasa di bulan ramadhan itu seru, banyak temannya dan saat berbuka banyak sekali menu takjil yang menggugah selera. Hal ini pun menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian besar masyarakat muslim kita. Namun ada juga yang berpuasa hanya karena merasa nggak enak sama teman/tetangga. Niat mereka berpuasa bukan karena Allah, tapi karena merasa nggak enak jika di di rasani sama orang lain; " jare wong islam kok gak poso". Jadi puasa model begini hanya akan mendapatkan lapar-dahaga saja. Tidak ada nilai ibadah yang di dapat  jika niatnya bukan Lillahi ta'alla sebab pahala orang berpuasa, Allah sendirilah yang akan langsung memberinya. Ketika kita berpuasa berarti kita belajar "meniru" sifat-sifatnya Allah SWT. Allah tidak makan tidak minum, saat puasa kita juga tidak di bolehkan makan dan minum dari mulai fajar sampai waktu maghrib datang. Yang perlu tahu kita puasa atau tidak cukuplah Allah saja dan diri kita sendiri. Puasa itu "ibadah hati", tidak usah di perlihatkan, tidak perlu minta di hormati oleh siapapun. Banyak fenomena di sekitar kita yang salah kaprah, dimana saat masuk bulan Ramadhan, warung-warung makan dan restoran di anjurkan untuk tutup pada siang hari. Ini di tujukan sebagai salah satu bentuk "penghormatan" kepada mereka yang berpuasa. Hal ini justru terbalik, puasa itu kan ibadah maka saat kita beribadah mestinya kita yang harus berhati santun menghargai orang lain yang tidak berpuasa. Ingat, masyarakat kita bukan muslim semua lho, kalau warteg/resto di suruh tutup semua nanti mereka yang non muslim mau beli makan dimana? Nanti penjual nasi padang dan kawan-kawannya dapat penghasilan darimana. Apabila kita menghendaki para penjaja makanan agar tutup di siang hari, maka secara tidak langsung kita berusaha menghambat dan membatasi peluang rejeki yang akan mereka dapatkan. Jangan di pukul rata, menganggap semua orang di masyarakat kita menjalankan puasa, jauh lebih bijak apabila kita yang berpuasa ini menghormati mereka yang tidak berpuasa.

Selanjutnya tentang zakat, infak dan sodaqoh. Sudah ikhlaskah kita tiap kali kita mengeluarkan dana zakat dan sodaqoh. Apakah masih ada perasaan ngganjel ketika kita berzakat. Padahal jelas-jelas 2,5 % dari harta yang kita miliki adalah haknya kaum dhuafa. Ataukah kita gemar bersedekah hanya mengharap puja-puji oleh manusia, biar orang-orang awam mencap kita sebagai ahli sedekah, lalu banggalah kita. Begitu pun dengan ibadah haji yang kita tunaikan, apakah niat berhaji kita memang sungguh untuk menyempurnakan rukun islam dan memenuhi panggilan-Nya. Atau lebih mementingkan gelar haji semata, sehingga ketika kita keluar rumah orang-orang akan memanggil kita dengan sebutan pak Haji/ bu Haji dan merasa terhormatlah kita.

Sungguh menjijikkan jika seluruh bentuk ibadah kita selama ini hanya bersifat "seremonial" semata, tanpa memaknai makna dan hakikat ibadah yang sebenarnya. Maka ada satu hal yang InsyaAlloh bisa kita harapkan dan andalkan pada saat hari penghitungan amal di gelar. Satu hal tersebut adalah SYAFAAT dari Rasulullah Muhammad SAW. Manusia paling mulia, kekasih-Nya Allah Tuhan semesta. Syafaat adalah hak prerogatif untuk menawar nasib kita dihadapan Allah. Seumpama gaji kita hanya rata-rata 65 ribu per hari, tetapi naik turunnya ekonomi nafkah kita itu bisa sangat dipengaruhi oleh fluktuasi "cinta" kita kepada Baginda Nabi. Jadi syafaat rasul adalah hak prerogatif Muhammad untuk meringankan keadaan kita di dunia maupun di akhirat, itu menyangkut keluarga kita, menyangkut nasib kita di akhirat, dan semuanya. Sehingga mari mulai dari sekarang dan jangan di tunda lagi untuk mencintai kanjeng Nabi, kita ikuti perangainya, kita teladani sifat-sifat arifnya. Kita haturkan sholawat-salam kemesraan baginya, semoga kanjeng Nabi berkenan menyambut segenap cinta kita, sehingga rasululullah tak tega jika tidak mengakui kita sebagai umat followernya dan intinya beliau bersedia memberikan syafaatnya bagi kita semua. Semoga


@MuhammadonaSetiawan

Sajak - "Segalanya Sederhana"

" Segalanya Sederhana "


Yang ku kejar selama ini adalah fana
Yang ku damba sekian lama ini semu semata

Terbuai dalam kepalsuan
Di ombang-ambing jiwa ragaku oleh keduniawian

Lama aku berkelana
Tak ku temu ketenangan jua
Tenaga, biaya, airmata habis terkuras
Semua bias, sirna tak membekas

Aku di tampar kehidupan
Di hajar karma membabi buta
Di putar balikkan oleh ucapanku sendiri yang keluar
Akan tetapi aku bersyukur, bersyukur luar biasa
Putaran roda menuntunku
Rentetan karma membuka sadarku

Terimakasih Tuhan,
Kini aku mulai jijik dengan kemewahan
Muak dengan predikat
Alergi dengan eksistensi
Dan tak sibuk lagi memburu gelar, jabatan apalagi kedudukan

Aku ingin segalanya sederhana
Makan sederhana
Berpakaian sederhana
Apa-apa sederhana

Patuh pada perintah-Mu
Teguh pada iradat-Mu
Nerima Qodo' - Qodar-Mu
Bahagia atas kearifan kasih-Mu
Hidup tentram oleh kemurahan hati-Mu




@MuhammadonaSetiawan


Minggu, 27 September 2015

Esai - "Rumus Kelapa"

" Rumus Kelapa "


Hari ini mari kita belajar ilmu kelapa. Kelapa atau bahasa jawanya di sebut kambil, mengalami proses step demi step untuk menjadi sebuah kelapa. Berawal dari sebuah bluluk kemudian menjadi cengkir lalu jadi degan dan akhirnya menjadi apa yang kita sebut kelapa/kambil. Bluluk adalah kelapa ketika masih bayi. Cengkir adalah kelapa ketika kanak-kanak. Degan adalah kelapa tatkala remaja. Dan kelapa adalah bluluk itu sendiri, adalah cengkir itu sendiri, adalah degan itu sendiri ketika sudah dewasa, matang dan sempurna.
Saat masih bluluk (kelapa bayi), belum ada manfaat yang bisa di ambil darinya. Setelah jadi cengkir barulah ada sedikit yang bisa kita ambil manfaatnya. Jaman dulu dan kebiasaan orang Jawa memberikan daging dari cengkir yang masih lembut atau klamut-klamut kepada bayi yang baru lahir atau masih berusia bulanan sebagai asupan makanan. Ketika sudah jadi degan kemudian kelapa maka hampir semua bisa kita ambil manfaatnya. Air dan daging degan bisa sebagai bahan membuat es degan. Daging kelapa bisa di parut, di peras dan jadilah santan, tempurung/bathoknya bisa di bikin jadi gayung atau irus juga bisa. Kulit kelapa/sepet bisa di buat menjadi sapu, keset atau bahan kerajinan tangan.

Metamorfosa pada kelapa bisa juga di analogikan dengan kita manusia. Setiap manusia pun mengalami sebuah proses pertumbuhan dan perubahan. Dari bayi lahir kemudian jadi kanak-kanak tumbuh lagi menjadi remaja dan selanjutnya dewasa. Lalu sekarang, di manakah letak posisi kita saat ini. Masih bluluk kah atau bayi, cengkir atau kanak-kanak, degan atau remaja atau sudah dewasa seperti kelapa. Jika sudah menjadi "kelapa" maka pikiran dan sikap mestinya sudah dewasa. Dan yang paling penting adalah harus memberi banyak manfaat seperti halnya kelapa. Tangan kita harus manfaat, kaki kita mesti manfaat, pikiran, ilmu, harta dan semua yang ada pada diri kita seyogianya bisa memberikan nilai dan manfaat bagi sekitar kita, baik keluarga, tetangga, masyarakat, dan seterusnya.

Bahkan dalam penciptaan kitab suci pun berlaku "rumus" kelapa. Terdapat korelasi disana. Allah menciptakan kitab zabur (bluluk) dan di berikan kepada Nabi Daud As. Lalu di perbarui secara eskalatif menjadi Taurat (cengkir) untuk kemudian di berikan kepada Nabi Musa As. Di kembangkan lagi secara komprehensif menjadi Injil (degan) di berikan kepada Nabi Isa As. Dan akhirnya di sempurnakan menjadi Alqur'an (kelapa) yang di karuniakan kepada sang baginda Nabi Muhammad SAW.

Lagi-lagi mari kita posisikan dimana letak saya, anda dan kita semua. Di titik mana saat ini kita berada. Satu yang pasti, hendaknya kita bisa belajar dan mengilhami "rumus" metamorfosa pada kelapa. Di umur dunia yang singkat ini, mari berusaha untuk  menjadi manfaat seperti kelapa, belajar terus menjadi dewasa dan senantiasa meng"Qur'an"kan hidup kita sampai ajal menjemputnya.


Oleh
@MuhammadonaSetiawan

Kamis, 24 September 2015

Cermin - "Bardan dan Tuhan" #2

" Bardan dan Tuhan " #2


" Tuhan, saya pengen curhat padaMu"
" Ada apa Bar?"
" Kenapa, akhir-akhir ini saya dapat musibah terus, seakan nggak ada habisnya"
" Musibah apa tho Bar?"
" Lohh, emang sampeyan ndak tahu, kan semua terjadi atas kehendakMu"
" Iya Aku tahu, tapi yang kamu maksud musibah itu yang mana?"
" Sebulan yang lalu, istri saya Kau ambil (meninggal dunia), belum hilang rasa dukaku, hari ini saya jatuh dari motor, tangan kiri saya patah".
" Ohh,.."
" Engkau tidak kasihan pada saya Han!"
" Bar, Aku kan dari dulu sudah bilang; semua yang asalnya dariKu maka pasti kembali jua padaKu (Ilaihi roji'un). Istrimu milikKu bukan?"
" Iya Han."
" Anakmu punya siapa?"
" Punya sampeyan juga."
" Harta bendamu, rumahmu, seluruh yang melekat padamu itu punya siapa?"
" Ya sama, milik Tuhan juga."
" Kalau semua itu milikKu, dan Ku ambil sewaktu-waktu boleh nggak?".
" Ya boleh, wong punyane sampeyan kok."
" Jadi apa Aku salah kalau mengambil yang milikKu sendiri?"
" Nggak."
" Begini Bar, sebenarnya bagiKu tidak ada yang namanya musibah."
" Maksudnya Han..."
" Kalau kamu bisa mencari alasan untuk terus bersyukur atas kehendak apapun dariKu, maka kamu tidak akan mengenal yang namanya musibah."
" Kok bisa begitu Han?"
" Saat istrimu meninggal, kamu tetap bisa bersyukur bahwa anak-anakmu belum ku "ambil", mereka masih hidup dan menjadi penyemangat hidupmu untuk melanjutkan hidup. Doakan istrimu agar kelak kalian bisa berkumpul lagi di jannahKu.
" (Bardan berkaca-kaca)."
" Ketika kamu jatuh dari motor kemarin dan tangan kirimu patah, kamu tetap harus bersyukur, karena cuma tangan kiri yang patah, sedang leher dan kakimu masih utuh, sehingga kamu masih bisa berjalan.
" (Bardan menangis tersedu)."
" Bar, carilah terus alasan untuk bersyukur, atas apapun ketentuan dariKu. Niscaya hidupmu hanya terisi oleh untung, untung dan untung."
" Iya Han, terimakasih." (Bardan sesenggukan)
" Akulah Maha memberi yang di minta/ sangka oleh hamba-Ku, ketika kau minta kuatkan hamba Tuhan, maka Aku kuatkan engkau. Ketika kau berucap, kenapa hidupku susah dan terus kena musibah, maka Aku pun memberi yang kau ucap, yaitu susah dan musibah."
" (Pecah tangis Bardan)."
" Mintalah dan sangkalah Aku dengan yang baik-baik, maka baik-baik pula yang akan kau dapatkan."
" Terimakasih Tuhan, (Bardan menengadahkan tangan)).



@MuhammadonaSetiawan

Sajak - "Sajak sunyi"

" Sajak Sunyi "


Senja sumbang
Ku susuri jalan pasar kembang
Bersama jiwaku yang separuh mengambang
Lusuh aku melaku gentayang
Serupa bocah yang sudah lama hilang
Duh, sungguh mengenaskan!

Aku kini bergeser ke Malioboro
Menyisir hingga tepi pasar Beringharjo
Lalu lalang roda dan manusia
Tak ku anggap ada, tiada semua
Sorak sorai para penjaja kaki lima
Aku tepis, coba menafikannya

Aku menahan diri
Menahan hawa nafsuku sendiri
Ku tekan semua ambisi
Memuasakan mata, telinga juga hati

Aku menepi
Aku memilih jalan sunyi
Tak ikut gegap gempita sajian dunia
Tak ingin hanyut dalam suka-cita yang fana

Di Malioboro ini
Di sepanjang jalan sakral ini
Aku ingin berenang, menyelami setiap inchi dari kedalaman ilmu sang guru Paranggi

Aku mau napak tilas, menggali bekas-bekas para sufi jalanan, yang menggoreskan tinta emas peradaban

Dan aku di sini merenung, merekondisi betapa panjangnya perjalanan, betapa berat mendera perjuangan seorang Emha

Aku merasakan getarannya dalam hati
Aku berdiskusi asyik dengan mereka di ruang sunyi, sunyi sekali
Jalan sunyi, menuntun pada jati diri
Puasa hati, membawa pada yang sejati



Yogya, September 2015

@MuhammadonaSetiawan

Rabu, 23 September 2015

Cermin - Bardan dan Tuhan

"Bardan dan Tuhan" #1


" Tuhan, tolong jelaskan pada saya!"
" Jelaskan apa Bar?"
" Jelaskan tentang makna dan memaknai rukun islam."
" Aku tanya dulu, ada berapa rukun islam Bar?"
" Ada 5 Han."
" Apa saja itu Bar?"
" Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, Haji,, bener kan Han?"
" Iya benar, Syahadat adalah mempersembahkan niat, persembahkan niatmu untuk bersaksi bahwa Aku Tuhan-Mu dan  Muhammad rasul utusan-Ku.
" Kalau sholat?"
" Sholat adalah mempersembahkan waktu, persembahkan waktumu untuk menunaikan sholat dalam rangka menyembah-Ku.
" Puasa?"
" Puasa adalah mempersembahkan fisik, persembahkan fisikmu untuk menahan lapar-dahaga dan hawa nafsu sebagai satu bentuk meneladani sifat-Ku.
" Kalau Zakat Han?"
" Zakat adalah mempersembahkan harta, persembahkan sebagian hartamu kepada dhuafa guna membersihkan noda dan kotoran yang terselip di dalamnya."
" Nah Haji?"
" Haji adalah mempersembahkan semuanya sekaligus; niat-waktu-fisik-harta, sebelum sampai yang terakhir, kamu pastikan yang sebelumnya mesti beres dulu."
" Penjelasan Anda sungguh brillian Han."
" Namanya juga Tuhan."


@MuhammadonaSetiawan

Selasa, 15 September 2015

Cerpen - " Tumbuh-teduh "

" Tumbuh-teduh "


Hari minggu kemarin, 13 September 2015, aku pergi ke rumah kawan lamaku di daerah Gemolong. Kawanku itu punya nama panjang sekali; Nathanael Adhi Berhana Purwanto, dan ia biasa di panggil Adhi. Dulu jaman SMA, aku dan Adhi teman satu kelas saat duduk di bangku kelas 2. Kita berdua akrab sekali, dan salah satu penyebabnya adalah karena kita sama-sama suka musik.

Pertama kali aku main ke rumah Adhi, ya saat kelas 2 SMA dulu. Dan Adhi ini adalah satu-satunya teman sekelasku yang beragama kristen. Di rumahnya terdapat gereja yang di peruntukkan sebagai tempat ibadah bagi para jemaat. Awal mula bermain ke rumah Adhi, jujur aku merasa sedikit canggung sebab itulah kali pertama aku masuk ke dalam gereja. Seumur hidupku belum pernah yang namanya datang atau masuk ke sebuah gereja. Namun setelah berkali-kali main ke sana, semua menjadi wajar dan biasa-biasa saja.
Pernah dulu ketika pulang sekolah aku main ke rumah Adhi. Waktu itu ada semacam pertanyaan yang ingin ku ajukan padanya (Adhi), tentang bagaimana ceritanya seorang Yesus bisa di sebut sebagai "Tuhan". Mendengar pertanyaanku yang sedikit aneh itu, Adhi cuma tersenyum dan bilang; begini aja Don, aku punya CD film yang isinya menceritakan tentang proses tuhan Yesus bisa menjadi Allah bagi umat kristiani, kita tonton saja. Akhirnya kita berdua menonton film yang durasinya sekitar 45 menit tersebut.

Setelah melihat film tersebut, tentu aku mendapatkan "sesuatu" yang bisa ku ambil dan aku punya perspektif sendiri tentang bagaimana seorang Yesus di tuhankan oleh umat Kristiani. Begitu juga dengan Adhi, pasti dia pun punya pandangan dan kepercayaan sendiri yang sungguh ia yakini. Dan aku sangat menghargai apa yang ia percayai dan yakini. Sebaliknya Adhi, ia juga menghormatiku sebagai temannya yang beragama muslim. Semisal tiba waktu sholat, aku izin ke dia, dan aku di persilakan untuk mengerjakan sholat di rumahnya, di gereja miliknya. Bagiku tidak ada masalah, apabila aku mengerjakan sholat di gereja, selama yang punya gereja mengizinkannya. Gereja kan hanya namanya, dan ketika aku bersujud, di situlah "masjid", walaupun tempat itu bernama gereja. Selama ini kita hanya fokus dan menjurus pada bab nama, brand atau sebutan, padahal yang lebih penting itu bukan nama, gelar atau predikat yang melekat. Yang jauh lebih penting itu adalah fungsi dan manfaatnya. Terserah tempat/bangunan itu bernama apa, namun ketika kita mendirikan sholat dan bersujud di situlah berfungsi sebagai masjid bagi kita.

Dan kemarin  setelah 11 tahun lamanya, akhirnya aku bisa datang kembali ke rumah Adhi. Gerejanya masih berdiri megah, anjing piaraannya juga masih menyalak keras, seolah ingin menyapa dan "mengucapkan" selamat datang kepadaku. Keluarga besarnya masih kompllit, mamanya Adhi juga masih ingat betul namaku, sedangkan papanya lupa-lupa ingat. Kakak dan adik-adiknya pun ramah menyambutku. Mereka semua sangat care dan welcome kepadaku, nggak ada yang berubah, masih sama seperti dulu. Dan seperti yang di sampaikan di awal bahwa aku dan Adhi berteman dekat dan akrab karena kita sama-sama hobi bermusik. Kita sama sekali tidak mempedulikan tentang agama dan latar belakang kita. Dan sore kemarin kita bernostalgia, kita berduet bernyanyi di gereja Pantekosta miliknya. Aku bertugas untuk menyanyi dan Adhi memainkan jari-jarinya di atas not piano. Indah sekali tatkala bait-bait lagu di iringi denting piano nan merdu. Seindah persahabatan kita yang tumbuh dan teduh di atas perbedaan.



Oleh
@MuhammadonaSetiawan