Selasa, 17 Juli 2018

Catatan

#Catatan tentang Si Doel Anak Sekolahan

Film Si Doel The Movie masih akan tayang Agustus mendatang. Namun gaungnya sudah terdengar dan ramai diperbincangkan khalayak di media sosial. Banyak dari kita yang bertanya-tanya sekaligus penasaran tentang bagaimana kelanjutan kisah Bang Doel. Terlebih lagi kisah percintaannya dengan dua wanita cantik luar biasa.

Tapi disini saya tidak akan bicara atau membahas soal Film Si Doel The Movie. Lewat tulisan ini saya justru kepengin mengajak anda semua untuk flasback. Mundur ke belakang. Mengingat-ingat, membayangkan, memutar kembali pita kaset memori kita, bernostalgia bersama, 'menikmati' adegan demi adegan serial jadul Si Doel Anak Sekolahan.

Menurut saya, paling tidak ada tiga hal yang membuat kita (pemirsa) tidak bosan-bosannya menyaksikan serial jadul Si Doel Anak Sekolahan di layar kaca. Meski di ulang-ulang, tetap saja menghibur dan bikin tertawa. Mari satu per satu kita kupas.

Alasan yang pertama adalah keaslian. Apa yang tersaji dan di sajikan dalam serial Si Doel Anak Sekolahan (Yang selanjutnya di tulis SDAS) adalah asli. Seperti tidak dibuat-buat. Layaknya realita kehidupan sehari-hari.
Memang ada skenario yang harus di mainkan. Tetapi seluruh pemain seolah membawakan alur cerita tersebut secara natural. Baik ketika berdialog (ngobrol) maupun melakukan sesuatu pekerjaan. Misalnya, si Babe kalau ngomong asal ngejeplak. Sekenanye aje. Lalu Bang Doel kalau mau kerja selalu pamit dulu ame Nyak-Babe. Mak nyak kalau lagi buka warung ya kayak buka warung beneran. Bang Mandra pas narik oplet, ya nyari penumpang betulan. Si Atun saat sedang nyalon, ya beneran entu orang di potong rambutnya sama dia. Lalu Mas Karyo setiap keluar dari kamar mandi, selalu nenteng gayung dan bagian bawahnya di lilitin handuk. Sarah si anak gedongan yang selalu mengendarai mobil kemana-mana. Serta Zaenab gadis lugu yang diam-diam mengagumi Bang Doel. Mereka semua seperti tidak akting. Mengalir apa adanya. Rasa-rasanya tidak ada editan dalam setiap adegannya. Dan keaslian gambar, watak, dialog, perbuatan dalam serial tersebut yang membuat kita tidak jenuh melihatnya. Itulah daya tarik tersendiri kenapa SDAS tidak lekang oleh zaman sampai kini.

Alasan kedua adalah kisah cinta. Yakni kisah segitiga cinta antara Bang Doel, Sarah dan Zaenab yang suka mengaduk-aduk emosi. Sampai SDAS habis episode, kisah percintaan mereka belum menemukan titik temu. Apakah Bang Doel memilih Sarah? Atau justru berlabuh ke pelukan Zaenab. Itu masih tanda tanya besar. Mungkin dengan menonton Si Doel The Movie nanti, rasa penasaran seluruh warga negara Indonesia dari Sabang sampai Merauke akan terjawab sudah. Semoga.

Tapi begitulah cinta. Cinta selalu menarik untuk diperbincangkan. Apalagi cinta dua anak manusia. Dan kasus percintaan di serial SDAS sangatlah rumit. Pelik. Sehingga menarik dan asyik untuk terus di ikuti. Segitiga cinta antara mereka berhasil memikat hati para penonton. Yang secara tak langsung membuat penonton geregetan. Penonton seolah di ajak untuk ikut memikirkan dan memutuskan, kira-kira Bang Doel akan menerima cintanya siapa. Apakah Sarah atau Zaenab? Wallahu'alam bis showab.

Dan alasan ketiga adalah nama terakhir yang saya sebut. Maaf, mungkin ini agak emosional. Sebab berdasarkan selera pribadi. Jadi kalau sedikit ndak obyektif harap maklum yah. Hehe.

Sejak kemunculan SDAS di tv, sosok Zaenab sangat mencuri perhatian. Seorang gadis ayu, lugu, rada pemalu. Pria mana coba yang nggak klepek-klepek. Bule aja termehek-mehek. Ehh.
Sampai kemudian saya tahu nama asli pemerannya, yakni Maudy Koesnaedy (@mpokmod). Dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berubah pada diri 'Zaenab'. Masih tetap muda. Awet pula cantiknya. (Pake formalin brape kilo mpok).  Ya wajahnya, ya rambutnya, ya bodi-nya masih enak di lihat. Di usianya yang sudah menginjak 43 tahun, mpokmod masih terlihat segar dan bugar. Mpokmod juga mewakili citra perempuan asli Indonesia. Cantik, anggun, smart, wajah ke-Indonesia-an, dan cinta budaya Indonesia. Paket komplit dah.

Alhamdulillah, semenjak ada Twitter saya bisa bertegur sapa dengannya. Saya follow dia, dia belum tentu follow aku (haha, ngarep). Selain cantik, mpokmod juga pribadi yang humble. Tidak peduli siapa yang mensyen, kalau nyambung dan ada waktu, pasti ia sempatkan untuk membalasnya. Dan khusus buat saya, dibales twit oleh seorang Maudy Koesnaedi itu sebuah kebanggaan tersendiri. Prestasi tingkat tinggi. Tidak kenal, tidak pernah ketemu, lain bapak, lain ibu, tapi bisa saling lempar candaan, tanya jawab, dan berbalas pantun. Itu amazing men.

Tiga alasan di atas itulah yang sekiranya membuat SDAS dan para tokoh di dalamnya sangat lekat di hati masyarakat. Mereka semua adalah legenda, dan akan dikenang terus sepanjang masa.

(Doa Al fatihah untuk Alm. Babe Benyamin, Mak Nyak, Engkong Tile, dan mas Basuki)

Sukses buat Si Doel The Movie

Gemolong-Sragen, 10 Juli 2018
Muhammadona Setiawan

Jumat, 21 April 2017

Esai - "Si Bodoh Mencari Jodoh"

Esai


"Si Bodoh Mencari Jodoh"



Ada rasa takut dan sedikit khawatir ketika saya membaca terjemahan arti dari Surat An Nur ayat 26 ;
"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)..." dst.

Yang membuat saya takut dan khawatir adalah, kira-kira saya ini termasuk di kategori kelompok laki-laki yang mana. Yang pertamakah, yaitu kelompok/golongan laki-laki keji. Atau yang kedua, kategori kelompok laki-laki yang baik. Jujur, saya pribadi cukup pesimis untuk bisa masuk ke dalam kategori kelompok yang kedua (baik).

***
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Alquran adalah firman Allah, maka sudah pasti benar dan tidak ada keraguan apalagi kebohongan didalamnya (Alquran). Hari ini saya bercermin pada diri saya sendiri. Laki-laki macam apakah saya ini. Tak tampan, tak mapan, tak punya gelar apa-apa. Kalau memang diri ini merasa bukan orang baik, maka apakah pantas untuk mengharapkan dan mendapatkan perempuan yang baik. Betapa bodohnya saya ini, betapa naif dan angkuhnya sikap saya selama ini. Tuhan, maafkan segala kelancangan hamba.

***

Disana ada perempuan baik-baik. Tidak hanya baik, tetapi juga cantik. Dan sesuai janji-Mu, bahwa perempuan baik hanya untuk laki-laki baik. Rasanya terlalu tinggi, tangan ini untuk bisa meraihnya. Rasanya kaki ini begitu berat, untuk dapat menggapainya.

Tuhan, hamba bersimpuh di bawah kursi-Mu. Sebagai manusia yang lemah, kerdil, kecil tak berdaya, saya dan seluruh hidup saya hanya bisa berusaha dan berbaik sangka.  Berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi serta berbaik sangka atas semua ketentuan Sang Illahi.

***
Sekali lagi, menulis adalah pekerjaanku sehari-hari. Dan lewat tulisan ini hendak ku sampaikan ;
"Kaulah kisah yang selalu ku tuliskan, dan aku tulisan yang tak sempat kau terjemahkan."


#21 April 2017
@Muhammadona_ Setiawan


Rabu, 05 April 2017

Puisi - "Antara Cemas Dan Harap"

Puisi

"Antara cemas dan harap"

April,
Bulan ke-empat, yang penuh rasa cemas dan harap
Cemas pada berkurangnya
Berharap atas bertambahnya

April,
Bulan ke-empat, yang penuh rasa cemas dan harap
Ku hadapkan wajahku ke langit angkasa
Menatap takjub Agung wajah-Nya

Tuhan, turunkan hujan dibulan April
Aku ingin basah dan menggigil
Menangkap butir-butiran hujan
Mendekap bulir-bulir harapan

April,
Bulan ke-empat, yang penuh rasa cemas dan harap


#050417
@Muhammadona_ Setiawan

Rabu, 01 Maret 2017

Esai - "Belajar Dari Maryam"

ESAI

"Belajar Dari Maryam"


Buku paling komplet sedunia adalah Al quran. Buku yang paling baik, benar, bijak dan sempurna dimuka bumi ini bernama Al qur'an. Tidak ada keraguan didalamnya (la roiba) sebab redaktur dan penerbitnya langsung sang Maha Terpercaya dan Sempurna Allah SWT.
Al quran adalah petunjuk (huda) sekaligus pedoman. Siapa yang ingin kenal dan pacaran sama Allah maka surat cintanya adalah Al quran. Siapa yang ingin sampai kepada Allah maka Al quran adalah tiketnya. Siapa yang ingin pernikahan-nya langgeng-bahagia maka mas kawin nya hendaknya Al quran. Dan siapa yang ingin selamat dunia-akherat maka Al quran menjadi senjata andalan-nya.
Membaca Al quran berarti membaca nilai, ilmu, pelajaran,  petuah dan hikmah. Al quran memberikan cahaya bagi kegelapan. Memberikan keyakinan pada keraguan. Memberikan kegembiraan untuk kesedihan. Serta memberikan jalan keluar atas segala kesulitan dan kebuntuan.
Malam ini, kita bisa belajar dari kisah perempuan tangguh berstatus single parent yang bernama Siti Maryam. Allah SWT berfirman ;  Fa naadaaha mintahtiha allaa tahzanii qod ja'ala robbuki tahtaki sariyyaa. Yang artinya ; "Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, "Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu."(QS. Maryam: Ayat 24)

Allah menyuruh Ruh suci Jibril AS untuk menghampiri Maryam yang kala itu tengah kesakitan pasca melahirkan putranya Isa AS. Dalam keadaan sakit dan merintih, Siti Maryam berusaha kesana kemari mencari air dan makanan untuk sang jabang bayi. Allah tidak tega melihat hamba-Nya gelisah dan berlinang airmata, maka Jibril di utus untuk menghibur hati Maryam dan memperlihatkan kebesaran Tuhan dengan berujar ; "Janganlah engkau bersedih hati wahai Maryam, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu."
Mari kita dalami dalam-dalam makna ayat diatas. Bahwa Allah pemilik jagat raya ini bisa memberikan apa saja kepada kita tanpa ada sebab, tanpa alasan, tanpa diduga atau disangka-sangka (Min haitsu layahtasib). Pada surat Maryam ayat 24, tidak ada peristiwa sebab-akibat disana. Allah tidak memberi karena diminta. Allah tidak mengabulkan karena ada doa permohonan. Tapi Allah spontan, seketika langsung menjadikan anak sungai didekat Siti Maryam berada. Agar Maryam dan Isa bisa meminum air tersebut. Maryam tidak berbuat apa-apa, Maryam juga tidak bekerja. Tetapi Allah yang bekerja memberi apa yang dibutuhkan Maryam tanpa Maryam meminta sebelumnya.

Kemudian dilanjutkan pada ayat berikutnya, yang berbunyi ; Wa huzzi ilaiki bijiz'in nakhlati tusaaqith 'alaiki ruthoban janiyyan. Artinya "Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu." (QS. Maryam: Ayat 25).

Pada ayat 24 - Allah memberi air minum kepada Siti Maryam dan Isa AS tanpa ada peristiwa sebab-akibat disana. Sedangkan diayat- 25 Allah mengajarkan sesuatu/ilmu yang berbeda kepada Maryam. Allah melalui Malaikat Jibril hendak memberikan makanan kepada Maryam tidak secara cuma-cuma alias gratis. Namun Siti Maryam harus "membayar"nya terlebih dahulu. Allah menyuruh Maryam obah, bergerak, berusaha dan bekerja terlebih dulu agar ia dapat memperoleh makanan. Yaitu dengan cara menggoyang-goyang pangkal pohon kurma yang disandarinya. Dengan digoyangkan-nya pohon kurma tersebut maka buah kurma yang masak berguguran sehingga dapat dimakan oleh Maryam dan putranya. Ada peristiwa sebab-akibat pada ayat 25 tersebut. Menggoyangkan pohon adalah sebab-nya dan buah berguguran ialah akibatnya. Artinya Allah mau memberi jika engkau/ kita mau berusaha mendapatkan-nya. Allah berkenan mengabulkan jika ada doa sungguh-sungguh memohon kepada-Nya.

Terdapat satu hal yang menarik jika kita mau mencermati 'makna' yang tersirat di ayat 25 diatas. Secara logika, Siti Maryam yang usai melahirkan pada waktu itu tentu kondisinya sangat lemah bahkan mungkin tak berdaya. Orang yang sedang lemah, pasti tenaga-nya tak seberapa. Kita sama-sama tahu bahwa pohon kurma yang sudah berbuah tentu memiliki batang yang tinggi dan besar. Lalu sebesar apakah kekuatan Siti Maryam ketika menggoyang pohon kurma hingga buahnya jatuh berguguran?". Hal ini mengajarkan kita kembali bahwa sebenarnya yang bekerja adalah Allah. Kekuatan Maryam saat menggoyang pohon kurma sejatinya adalah kekuatan Allah yang dipinjamkan kepadanya. Atau bisa saja, Allah 'menyuruh' si pohon kurma untuk mengugurkan buah-buahnya. Yang demikian mudah bagi Allah, namun kadang manusia tak sanggup untuk menjangkau-nya. Meski kita diharuskan untuk selalu berusaha dan bekerja tetapi tetap Allah yang kuasa menghendaki hasil-nya.

Hari ini kita bisa belajar banyak dari surat Maryam ayat 24 dan 25. Bahwa Allah bisa memberikan apa saja tanpa sebab, tanpa kita minta dan tanpa kita mengusahakan-nya. Namun ada kalanya juga Allah berkenan memberi dan menghendaki setelah kita mau meminta kemudian berupaya, berkarya, bekerja untuk mendapatkan-nya. Satu kuncinya; berbaik sangka-lah terus menerus tanpa putus kepada Sang Maha Baik Allah Azza wa jala.


Sragen, 28 Feb 2017
Oleh
@Muhammadona_ Setiawan

Senin, 20 Februari 2017

KOLOM ; Cinta, cinta dan cinta

KOLOM


" Cinta, cinta dan cinta"


Alasan utama Allah menciptakan ciptaan-Nya yang pertama yaitu Nur Muhammad tidak lain adalah cinta. Nur Muhammad adalah pancaran cinta-Nya, pantulan cahaya Allah itu sendiri yang mana dikemudian hari Nur Muhammad di wujudkan dalam bentuk seorang manusia(ahsanu taqwim) yang bernama Muhammad bin Abdullah, yang beribukan Siti Aminah. Kalau Allah tidak cinta maka tidak ada manusia dan seluruh big bang semesta raya ini. Cinta menjadi unsur utama terselenggara-nya hubungan timbal balik antara pencipta (Allah) dengan ciptaan-Nya (mahkluk/hamba).
Bahkan Allah yang memiliki 99 nama baik (Asmaul Husna), mempromosikan sifat diri-Nya yang pertama kepada alam dan makhluk (manusia) yaitu Rahman dan Rahim (Pengasih-Penyayang). Allah itu mengasihi dan menyayangi dulu. Allah tidak pernah menghinakan tetapi manusia itu sendiri yang menghinakan diri mereka sendiri. Allah mustahil menyia-nyiakan apapun dan siapapun, mereka-lah sendiri yang menyia-nyiakan segala karunia-Nya.
Hakikat Allah sejatinya adalah Maha Pengasih-Penyayang. Bahwa sebagai hamba, manusia lahir ke dunia untuk "bermain" cinta.
Pada akhirnya sederhana saja yang mesti kita pahami bersama. Bahwa kita mengalami tiga fase.  Tiga fase perjalanan dengan satu alasan. Pertama, alasan mula Allah menciptakan kita adalah alasan rasa cinta. Kedua, Tuhan tidak mengajari apapun kepada kita didunia ini selain untuk berkasih-sayang dan cinta. Dan terakhir, kita nanti dipanggil kembali oleh Allah untuk menyatu dengan-Nya (manunggaling kawula lan gusti) itupun karena rasa cinta juga. Alasan dari itu semua adalah cinta, cinta dan cinta.


#19 Feb 2017
Oleh
@Muhammadona_ Setiawan

Senin, 12 Desember 2016

Puisi - "Muhammad"kan Kami Tuhan"

Puisi


"Muhammad"kan Kami Tuhan"




Tak sanggup aku bayangkan, seberapa jembar kesabaranmu
Meski sepanjang hidup kau dicaci-maki, difitnah, di sembur air ludah, tapi kau terima itu semua, tanpa ada setitik marah dan dendam di dada.
Sedangkan lihatlah padaku, sekali saja aku diremehkan orang, mukaku langsung memerah padam!!

Tidak mampu ku gambarkan, tentang bagaimana murninya keikhlasanmu
Selama hidup kau tlah dermakan apa saja yang kau punya, hingga kau rela menderita asalkan orang-orang disekitarmu bahagia
Sedangkan lihatlah aku ini, sekalinya bisa memberi sesuatu pada orang lain, namun ada segepok pamrih dalam bathin

Sungguh tak dapat ku nalar dengan akal dan pikiran, akan kualitas cinta yang ada padamu, jutaan umat keturunanmu yang tak kau kenal dan temui sebelumnya, tapi kau perhatikan sungguh, kau suwun-kan doa keselamatan bagi mereka semua.
Sedangkan lihatlah diriku ini, hanya sibuk memikirkan diri sendiri, fokus mengejar karier pribadi, peduli setan dengan kanan dan kiri.

Wahai Sang Nabi
Aku malu mengaku umatmu
Bagaimana mungkin aku bisa meneladanimu, sedangkan mataku ini mata dunia, hatiku hati materi, aku lebih cinta harta benda daripada pahala yang kasat mata.

Wahai manusia suci
Aku tak patut menjadi pengikutmu
Bagaimana mungkin aku dapat mencontohmu, sedangkan Tuhanku adalah uang, panutanku ialah setan dan pedomanku bernama kepuasan. Jika ada uang maka kekuasaan ada dalam genggaman, kemudian bebas melakukan tipudaya kapan, dimana dan kepada siapa saja.


Wahai Tuhanku
Rusak sudah aku
Rusak sudah keyakinanku
Rusak sudah norma dan tatanan hidupku

Rusak tanahku
Rusak lautku
Rusak hutan-hutanku
Rusak kekayaan tambang dibumiku

Rusak para wakilku
Rusak sistem birokrasiku
Rusak pemilu bangsaku
Rusak pula negara ibu kandungku


Wahai Tuhanku Yang Merajai negeri ini
Maafkanlah kerakusan kami
Maafkanlah kelicikan kami, kebobrokan dan kerusakan yang timbul dari perbuatan kami

Hidup kami gawat
Keyakinan kami telah cacat
Kemanusiaan kami sedang darurat
Negara kami pun semakin sekarat

Yaa Tuhanku,
Kami berlindung kepadaMu
Kami memohon sangat kepadaMu
Turunkanlah lagi kepada kami satu Nabi baru
Yang Kau utus khusus untuk menyelamatkan bahtera negeri kami yang nyaris karam, tenggelam.

Namun Tuhan, kami pun sadar
Doa kami ini keterlaluan
Doa kami tersebut jelas tak mungkin Kau kabulkan, karena sudah nyata dan gamblang bahwa Muhammad adalah Nabi akhir zaman.

Kalau memang begitu Tuhan,
Kalau Nabi sudah tak mungkin Kau turunkan,
Kalau Nur Muhammad tak mungkin Kau cetak ulang
Maka satu-satunya jalan adalah tanamkan;
Tanamkan Ruh Muhamammad di dalam jiwa kami
Tuangkan cahaya Muhammad di dalam hati kami
Dan serta tumbuhkan rahmat Muhammad disekujur hidup kami

Yaa Allah Tuhan Kami
Mulai hari ini,
Muhammadkan akal kami
Muhammadkan pemikiran kami
Muhammadkan penglihatan, pendengaran, lisan dan tuturkata kami

Yaa Allah Pencipta kami
Muhammadkan sikap kami
Muhammadkan perbuatan kami
Muhammadkan jalan keputusan kami
Dan Muhammadkan pergerakan-pergerakan yang kami jalani

Ya Allah Penjaga kami
Muhammadkan kami sebagai pekerjaMu
Muhammadkan kami sebagai pelayanMu
Muhammadkan kami sebagai pedagang, petani, buruh, nelayan, guru dan profesi apapun yang Kau amanahkan kepada kami

Yaa Allah Pemlihara kami
Muhammadkan kami sebagai anak
Muhammadkan kami sebagai orangtua

Muhammadkan kami sebagai sahabat
Muhammadkan kami sebagai tetangga, saudara-handaitolan
Muhammadkan kami sebagai umat, rakyat, masyarakat  juga pemimpin seperti akhlak Baginda Muhammad.

Muhammadkan kami Ya Allah.



#Sragen, 27 Nov 2016
@Muhammadona_Setiawan






Minggu, 11 September 2016

Puisi - "Wajah Rembulanku"

" WAJAH  REMBULAN-KU "


Tak banyak kata yang dapat ku tuliskan
Pun tak banyak cerita mampu ku tuangkan

Sekalipun kita belum bertatap muka
Mana mungkin aku berani bicara bla bla bla
Bila kurang takut menyinggung perasaan
Jika berlebihan jatuhnya gombal...


Tak mewah yang hendak ku sajikan
Pun tak megah yang ku persembahkan

Yang ku tulis ini kejujuran
Ku tuangkan penuh perasaan
Tentang yang kutangkap dan ku saksikan
Tenang teduh matamu, menyejukkan kalbu
Terang sinar wajahmu, memancarkan syahdu

Aku menyambutmu... dan aku menyebutmu...  (Wajah Rembulan-ku)


Karya
@Muhammadona_ Setiawan
#230816

Kamis, 04 Agustus 2016

"Sajak Muhammad "

" SAJAK MUHAMMAD "


Sekiranya aku menjadi Muhammad
Takkan sudi kembali ke Bumi, setelah sampai didekat 'Arasyi

Seandainya aku jadi Muhammad
Enggan rasanya turun ke dunia, setelah menembus Sidratul Muntaha

Semisalnya aku Muhammad
Aku akan berlama-lama, bercinta-bermesra-- bercengkrama dengan Yang Esa

Soal kembali ke bumi nanti saja
Turun ke dunia ditunda sementara

Tetapi, untungnya aku bukan Muhammad
Muhammad bukan aku
Dan tidak mungkin aku jadi Muhammad

Muhammad adalah kekasih
Anugerah yang terpilih
Muhammad adalah nur-cahaya
Rahmatan bagi semesta

Jiwa Muhammad gundah akan kebebalan umat
Hatinya gulana atas kekafiran kaum-nya

Allah lantas mengirim burung gagah perkasa
Buraq menjelma armada, menghantar Muhammad menemu Tuhan-Nya
Yang Maha Kasih hendak menghibur kekasihnya
Yang Maha mulia ingin memuliakan utusan-Nya

Muhammad di Isra'kan
Perjalanan horisontal, menapak tilasi perjuangan para Nabi
Muhammad lalu di Mi'raj-kan
Pendakian vertikal, meninggi- menyowani singgasana Illahi


Wahai kekasih
Jangan bersedih hati, AKU memberkahimu, kata Allah.
Wahai Sang Nabi
Jangan bermuram durja, AKU membersamaimu kapan-dimana saja

Muhammad-pun kembali ke bumi berseri-seri
Baginda turun kedunia penuh suka-cita
Islam disampaikan dengan cinta-tanpa paksa
Iman disemaikan bertahap-perlahan menurut kemampuan

Sekali lagi bahkan seribu kali lagi
Muhammad adalah rahmat
Muhammad ialah Mukjizat
Muhammad sang juru syafaat

Bersholawat-lah kagem kanjeng Nabi
Bersyahadat-lah di hadapan Sang Illahi


Karya
@Muhammadona_ Setiawan


Selasa, 26 Juli 2016

Esai - " ASING DAN TERASING "

"  ASING DAN TERASING "


Pada 27 Mei 2016 lalu,  ada gelaran Akbar yang berlangsung di Desa Menturo, Sumobito, kab. Jombang, Jawa Timur. Pada hari itu, salah seorang tokoh besar Republik ini 'merayakan' usia yang ke-63 tahun. Tokoh tersebut adalah simbah dan guru kita semua yaitu Emha Ainun Nadjib atau akrab disapa Cak Nun atau lebih tepatnya sekarang dipanggil Mbah Nun.

Atas izin Allah dan cintanya Rasulullah, saya dan beberapa teman Jamaah Maiyah asal Gemolong Sragen turut menghadiri Maiyahan yang bertajuk IHTIFAL MAIYAH di Jombang kala itu. Ada 2 alasan yang mendorong saya untuk ikut serta datang ke Jombang. Pertama : usia mbah Nun telah menginjak 63 tahun. Angka 63 terasa spesial sebab usia tersebut persis dengan jatah usia Kanjeng Nabi ketika dipanggil Allah SWT. Oleh karena-nya, saya mengharuskan diri saya untuk menyempatkan hadir ke Jombang guna memberi selamat dan doa secara langsung teruntuk Mbah Nun tercinta. Kedua: seumur hidup saya pun belum pernah menyambangi tanah kelahiran Gus Dur tersebut. Sehingga ada keinginan yang sangat besar untuk bisa menginjakkan kaki disana (baca: Jombang).

Saya dan ke-4 teman saya berangkat menuju Jombang dengan mengendarai mobil pribadi. Berangkat pukul 2 siang dan sekitar pukul 8 malam telah sampai di kawasan kab.Jombang. Selama perjalanan dari Gemolong (Sragen) ke Jombang, kondisi cuaca berubah-ubah. Ketika mobil kami sampai di Mantingan Ngawi, hujan turun lebat. Dan memasuki Ngawi kota mendadak air hujan sirna. Mobil terus melaju dan tak terasa kami sudah tiba di Madiun. Disepanjang jalan kota Madiun cuaca cukup cerah, tak ada tetes hujan yang kami jumpai. Kondisi tersebut bertahan hingga kami masuk kawasan kota Nganjuk.

Jarum jam menunjukkan pukul 18.30 WIB. Diperbatasan Nganjuk-Jombang, hujan kembali mengguyur. Kami memutuskan untuk rehat sejenak dan menunaikan sholat maghrib. Usai sholat kami lantas melanjutkan perjalanan menuju Lokasi Ihtifal Maiyah. Sebelum meluncur ke Menturo, mobil kami bergegas ke Kompleks Ponpes Tebu Ireng. Disana ada satu teman JM dari Gemolong juga yang sedang mengantar anak-nya mendaftar di Ponpes petilasan Gus Dur tersebut. Ia minta dijemput karena pengen ndherek juga ke Menturo.

Sampai di Tebu Ireng hujan mereda. Udara segar- suasana nyaman sangat kami rasakan ketika mobil kami parkir didepan Ponpes. Lantunan ayat suci terdengar merdu dari dalam ponpes seketika menentramkan kalbu. Ditempat inilah para ulama besar Negeri ini dilahirkan dan ditempa. Mbah Hasyim- Mbah Wakhid-- Mbah GusDur adalah beberapa putra terbaik Daerah. Doa kebaikan pantas kita kirimkan kepada para kekasih Allah tersebut. Al Fatihah.

Tak berselang lama, kami pun bergegas merapat ke Menturo. Setengah jam perjalanan dari Tebu Ireng ke Menturo, cuaca berubah cerah dan bergairah. Hujan telah usai. Dari 6 orang yang ada dimobil hanya ada satu orang yang pernah berkunjung ke Menturo. Itupun sudah lama sekali. Ahsan salah satu teman saya itu terakhir kali ke Padhang mBulan Menturo pada tahun 2000 lalu, saat Ia masih menempuh studi (kuliah) di UNDAR. Jalan-suasana dan kondisi lingkungan Jombang saat ini sudah berubah total, katanya.

Setiap mobil kami nyasar, maka kami-pun bertanya kepada orang dijalan. Mungkin, sudah lebih dari 6 kali kami mananyakan dimana letak Desa Menturo. GPS juga kami gunakan sebagai penunjuk jalan. Dan ketika kami melintasi rel Kereta Api, terlihat disebelah ujung jalan Kantor Polres Sumobito. Alhamdulillah, itu artinya kami sebentar lagi akan sampai dilokasi. Mobil kami menderu menelusuri sepanjang jalan ditepi rel Kereta Api. Radar GPS terus menari-menari seolah membimbing arah perjalanan kami.

Kami telah memasuki jalan-jalan kampung. Berderet rumah-rumah warga. Hamparan sawah tersaji. Perkebunan tebu dikanan-kiri. Kami lewati jembatan, jalan yang licin, terjal dan berliku pasca diguyur hujan. Ya Allah, dalam hati aku bergumam: "Dimana kampung-nya Mbah Nun, kok nggone mblusuk ngene..". Kami sempet bingung lagi untuk menuju ke Desa Menturo. Ketika mobil kami mandeg, tiba-tiba ada pengendara motor yang menghampiri mobil kami. "Arek marang Cak Nun mas.., monggo bareng saya saja". Puji Tuhan, ketika lelah sudah melanda, perut meronta-ronta (baca: kelaparan) pertolongan Allah-pun tiba.

Selang 20 menit, mobil kami sampai juga dibibir Desa Menturo. Alhamdulillah. Lantunan ayat suci Alqur'an dari pengeras suara seakan menyambut kedatangan kami dan ratusan Jamaah Maiyah yang baru sampai dilokasi. AllahuAkbar, akhirnya sampai juga kami ditempat tanah kelahiran Mbah Nun. Tanah lapang berubah menjadi arena parkir mobil dari berbagai penjuru Nusantara. Halaman sekolah Global juga disulap sebagai lahan parkir roda dua. Saya dan teman-teman segera merapat ke depan lokasi Maiyah. Lautan manusia berjubel. Laki-laki, perempuan-bapak-ibu-mbah--anak-anak berkumpul dalam satu lingkaran pasedhuluran Maiyah. Saya pun ikut berbaur ditengah-tengah mereka. Perasaan haru-gembira bercampur. Para JM menikmati setiap detik kemesraan, menyaksikan para 'bintang tamu' menyajikan pertunjukan di atas panggung. Ada Cak Kartolo cs yang ndagel ala Jawa timuran. Karena saya ndak dong bahasa-nya, maka saya cuma nyengir-nyengir sendiri. Kemudian  ada persembahan dari Komunitas 5 Gunung pimpinan pak Tanto Mendut. Penampilan mereka terkesan mistis karena banyak sekali uborampe yang digunakan. Seperti : dupa-menyan-kembang-tebu dan tetek bengek-nya. Dalam rangka mangayubagyo Ulang Tahun Mbah Nun, pak Tanto memberi hadiah batu akik kepada mbah Nun serta mempersembahkan tarian-barongsai dan wayang kulit. Semua JM nampak terhibur dengan penampilan Komunitas 5 Gunung.

Usai pertunjukan Wayang kulit, mas Sabrang cs giliran naik ke panggung. Dengan formasi lengkap, Letto membawakan beberapa nomor andalan dari album mereka. Nomor Menyambut Janji menjadi lagu pembuka. Dijeda lagu mas Sabrang juga mengajak JM semua untuk mendoakan mbah Nun semoga beliau tetep sehat dan setia melayani kita semua, jamaah serentak meng-Amin-kannya. Hampir semua nomor Letto yang dibawakan, jamaah hafal, ikut larut mendendangkannya.

Menginjak pukul 01.30 dinihari, barulah Mbah Nun naik ke panggung untuk menyapa dan menyampaikan ungkapan terimakasih kepada pengisi Acara dan seluruh JM Nusantara yang telah sudi hadir maupun yang tak bisa hadir namun turut memberi ucapan selamat dan doa-doa kebaikan. Kebaikan anda semua dicatat dan diganjar berlipat oleh Yang Maha Kasih Allah SWT, ucap simbah mesra. Dan tepat pukul 03.00 WIB gelaran Ihtifal Maiyah ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Cak Fuad.

Alhamdulillah. Serangkaian acara IHTIFAL MAIYAH - 27 MEI 2016 di Desa Menturo Sumobito Jombang telah usai. Begitu banyak pelajaran dan pengalaman hidup yang saya dapatkan, pun demikian JM keseluruhan. Bagi saya pribadi, NILAI yang paling berharga yang bisa saya serap dan tangkap justru bukan pada konten acara Ihtifal Maiyah-nya namun yang lebih mendalam/ nancep ati adalah perihal "Skenario Tuhan". Batin saya bergumam pelan : Ya Allah Ya Rabb'ku,  tidak ada satu-pun yang menyangka, jikalau di Dusun yang plosok-ndeso--terpencil dan terASING dari keramaian hingar bingar akan lahir seorang Figur besar yang selama hidupnya setia bekerja untuk melayani-mencintai- mengabdi dan memberi seluruhnya untuk anak-cucu bangsa ini.
Jazaakallah khairan katsiran. Matursembah nuwun. Salam takzim dan cinta teruntuk Mbah Emha Ainun Nadjib.


Oleh cucumu

@Muhammadona_ Setiawan
#220716

Selasa, 19 Januari 2016

Esai - "Memilih Jalan Sunyi"


" Memilih Jalan Sunyi "



Rindu kami padamu Ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu Ya Rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suwarga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja


Bait kalimat di atas adalah penggalan lirik lagu religi berjudul: RINDU RASUL yang sempat populer di bawakan oleh grup vokal Bimbo.

Entah ada daya magis apa, setiap kali mendengar lagu tersebut saya mendadak trenyuh dan tak bersuara. Bahkan airmata ini tumpah dengan sendirinya. Tidak hanya pas mendengarkan saja, pun ketika saya coba melantunkan syair demi syair lagu tersebut, seketika dada ini sesak di ikuti sekujur tubuh merinding dan gigil.

Ya Nabi salam 'alaika, sungguh kami rindu padamu Ya Nabi, rindu yang tiada terperi. Sholawat dan salam kami haturkan selalu kagem baginda Muhammad SAW. Memang benar, antara kanjeng Nabi dan kami terpaut berabad jarak, namun sungguh aura, figur dan cinta kasihmu nyata kami rasakan hingga saat ini.

Muhammad adalah kekasih Allah. Barang siapa mencintai kekasih Allah maka Allah akan balas mencintainya. Nur cahaya Muhammad telah menerangi kegelapan dunia, telah merahmati alam semesta. Sejatinya umat manusia sekarang tinggal enaknya saja. Tinggal mengikuti apa-apa yang telah di ajarkan kanjeng Nabi maka selamat kita. Namun sayang sekali, banyak manusia enggan memilih jalannya Nabi dan mungkin termasuk saya ini. Maafkan kami Ya Rasul, kami sangat mencintaimu namun masih semu, kami juga teramat rindu padamu meski terasa palsu.
                         ****
Alhamdulillah, sudah hampir 10 tahun saya menjadi bagian kecil dari Majelis Masyarakat Maiyah. 5 tahun menjadi jamaah Kenduri Cinta Jakarta dan sekarang rutin ngangsu kawruh lan ilmu di Majelis Mocopat Syafaat Yogya setiap tanggal 17 malam. Saya merasa beruntung luar biasa di giring Allah untuk 'keblasok' di Majelis Maiyah. Memang, pada awal melingkar dan sinau bareng di Forum Maiyah muncul perseteruan sengit dalam benak saya. Di saat hasrat diri mendambakan menjadi orang terkenal, tapi di Maiyah saya di rem untuk menahan diri. Saya nusang jempalik untuk meraih predikat dan gelar agar di segani orang, tapi di Maiyah di ajarkan bahwa semua manusia sama dan sejajar. Ketika saya mati-matian untuk menunjukkan buah karya saya selama ini, dan lagi-lagi di Maiyah saya di wejangi agar memilih jalan sunyi.

Apa-apaan ini, kenapa Maiyah serasa mencekal mimpi dan misiku. Jelas ini bertolak belakang 180° dengan obsesi hidupku selama ini. Cobaan apa lagi ini Tuhan. Kata saya pada awal nyemplung di Forum Maiyah. Dan Allah benar menunjukkan kebesarannya. Pelan-pelan saya di tunjukkan hidayah, sedikit tapi continue saya mampu untuk menyerap-mencerna-memahami apa itu ilmu "menahan diri" dan memilih "jalan sunyi". Saya di ajari langsung, di tatar, di poles, di gembleng habis-habisan oleh pelaku utama jalan sunyi. Tidak lain dialah guru Jamaah Maiyah Nusantara asal Jombang; Emha Ainun Nadjib atau akrab di sapa Cak Nun. Dan saya pribadi lebih suka dan nyaman memanggil beliau Mbah Nun.

Simbah memilih jalan sunyi, menjauh dari mainstream dan panggung hingar-bingar. Simbah menghabiskan waktunya untuk melayani masyarakat se-antero bumi Indonesia. Tanpa lelah, tanpa transaksi dan tanpa ekspos sorot media. Simbah setia pada jalan sunyi untuk ndandani hati-moral dan pemikiran manusia-manusia Indonesia.

Di mata saya, simbah adalah multi-talent. Beliau seorang guru, pemimpin, penasihat sekaligus ayah, simbah dan sahabat bagi semua. Mengajarkan nilai-nilai agama, sosial-budaya, politik dan hampir seluruh lini kehidupan di sampaikan beliau dengan cerdas dan mencerdaskan. Baik melalui tulisan (puisi-esai-kolom-buku), forum diskusi, pementasan dan juga seabrek karya lagu bersama grup Kiai Kanjeng yang di asuhnya. CNKK menjelma menjadi "klinik" berjalan yang senantiasa ngobati larane ati menungso, mengguyub-rukunkan perselisihan, mencairkan ketegangan serta sebagai "bak sampah" atas segala keluhan berbagai permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat.

Namun hebatnya Simbah tak pernah mengeluh, ndak gresulo sedikitpun. Beliau tetap melayani dengan cinta asih. Membalas kebencian dengan cinta, menjawab fitnah dengan cinta, bersedekah cinta pada Indonesia padahal bangsa ini masih punya 'hutang' pada Simbah. Bahkan orang-orang yang sempat menyantetnya dan ingin membunuhnya tetap di cintainya. Itulah Emha, sosok tanpa gelar, bukan pejabat, bukan selebriti, Kiai pun bukan, hanya seorang Cak dari Jawa Timur yang penuh cinta dan dedikasi tinggi pada negeri ini.

Tak di pungkiri, jika yang di lakukan Simbah selama ini mirip dengan apa yang di lakukan kanjeng Nabi pada masa dulu. Berdakwah, mengajak umat untuk sama-sama sinau menuju kebaikan (shirattal mustaqim). Mencintai Allah dan Rasul-Nya. Mengajak dengan cinta bukan paksa. Merangkul dengan cinta tanpa dakwa. Sudah amat langka sosok Emha di Republik ini. Seorang yang rela jiwa-raga memberikan apa saja untuk kearifan kampungnya, kemuliaan bangsanya dan keselamatan seluruh rakyat Indonesia.

Saya dan mungkin kita semua rindu pada figur guru dan pemimpin laksana Baginda Nabi. Pemimpin yang baik hati lagi santun. Guru yang mengasuh dengan cinta dan ketulusan. Kalau bisa aku pengin terus nggondheli klambine Nabi. Tapi apa mungkin bisa, Engkau telah di peluk mesra sang Illahi sedangkan kami masih kacau, kotor, berlumur dosa di muka bumi.

Syukur Alhamdulillah. Kini ada satu cara untuk sedikit mengobati haus rinduku pada sang Nabi. Semoga ini tidak berlebihan, lebay, pamer apalagi mengkultuskan. Tidak! Semoga Allah mengampuni kelancanganku. Dapat aku temukan sosok satu level di bawah Nabi/ mungkin wali pada diri Simbah (EAN) yang ku pahami selama ini. Bagaimana tidak, sepanjang hidup terus menebar cinta meski di benci, di hina, di fitnah dan mau di apakan saja beliau terima. Sebab apapun yang beliau kerjakan hanya untuk mengharap cinta-Nya Allah dan Rasul-Nya. Bukan puja-puji manusia, bukan untuk obsesi pribadinya, juga bukan bab urusan dunia semata.

Ya Allah, Engkau tetap Tuhanku.
Ya Muhammad, Engkau tetap Rasulku.
Jika sekarang aku tak bisa mencium mesra Nabi, maka aku bisa menciumi pipi simbah kanan-kiri sebagai pelampias rinduku.
Jika aku belum mampu memeluk harum tubuh Nabi, aku bisa merangkul erat-erat tubuhnya Simbah sebagai wujud roso tresnoku.
Jika aku ingin mengikuti jalan cahaya Nabi, maka aku memilih jalan sunyi yang di tempuh Simbah sekian lama ini. Jalan sunyi sungguh nikmat sekali.

Aku cinta padaMu Ya Allah, cinta padamu Ya Nabi dan juga cinta padamu Simbah.
Semoga Allah, Rasulullah dan Simbah tidak marah kepadaku.



Oleh
@MuhammadonaSetiawan

Selasa, 29 Desember 2015

Esai - " Catatan Penghujung Tahun "


#Catatan Penghujung Tahun



Orang Indonesia itu gumunan, latah, dan gampang di bikin mabuk: jadi cukup di serbu dengan iming-iming di segala bidang maka mabuklah semuanya. Segala macem partikel yang menggiurkan, gosip yang menarik, link informasi yang bersliweran di media sosial di untal mentah-mentah oleh orang Indonesia, tanpa reserve. Padahal apa saja yang hendak kita untal/ makan baiknya kita olah dulu-di pamah sampai lembut baru kita telan masuk perut. Sebab kalau kita nguntal yang masih gelondongan, akibatnya kita akan kloloten/ kesedak lalu muntah berserakan.

Ibarat kata kalau kita mau makan nasi, maka kita harus mengidentifikasi proses terjadinya nasi. Mempelajari secara urut dan continue, mulai dari tahap nandur padi di sawah, setelah padi menua lantas di panen, di erek yang kemudian menjadi gabah. Lanjut gabah di jemur di bawah sengatan matahari, untuk kemudian di selepke dan jadilah beras. Beras belumlah enak untuk di makan, maka beras mesti di ayak, di bersihkan dari kerikil dan kotoran yang lain atau di tapeni kata orang Jawa. Sesudah itu beras di bersihkan dengan air barulah di liwet atau di nanak dan jadilah nasi yang setiap hari kita konsumsi. Jangan protes kalau kita belum tahu proses apalagi progres.

Dan untuk mengolah makanan, ilmu, opini, informasi dan apapun itu manusia di bekali Tuhan akal sehat. Dan namanya akal sudah pasti sehat, sebab tidak ada akal sakit. Hanya gigi dan hati yang mungkin berpotensi untuk sakit, yang mana kita sering menyebut sakit gigi juga sakit hati. Jadi akal manusia sudah pasti sehat jangan lagi di tawar. Ketika akal masih gamang dalam mencermati suatu hal, Tuhan lantas memberi manusia hati-rasa-etika untuk membantu mempertimbangkan segala sesuatu yang hendak masuk pada diri. Akal dan hati harus saling bahu-membahu setiap menangkap berbagai jenis informasi dan mesti 'sesuai' dosis, konteks, batas, takaran, koridor wilayah, ruang dan waktu. Apabila kurang itu tidak baik, overdosis pun membahayakan. Pilihlah yang dinamis. Tapi begitulah, manusia Indonesia memang malas berfikir, pokoknya ambil dan telan.

2015 akan segera kita tinggalkan, semoga saya-anda- pak RT- Bayan- Lurah- Camat- Bupati- Menteri- Jokowi dan seluruh manusia Indonesia turut meninggalkan sikap gumunan, latah dan hobi nguntal mentah-mentah.




@MuhammadonaSetiawan

Selasa, 22 Desember 2015

Esai - "Prihatin"


" Prihatin "


Kenapa orang mencari uang sebanyak-banyaknya,
menumpuk harta benda ndak habis-habis, dan tak henti-hentinya mengejar kekuasaan. Karena mereka pikir hanya itu yang bisa membuat mereka hidup bahagia.
Padahal sederhana saja. Semakin kita lapar maka semakin nikmat kita makan, sebab lauk yang paling nikmat itu bernama "lapar". Nikmat dan lezat itu ketika sudah lama tidak terjadi, suatu hari terjadi dan itu membuat kita seneng ndak karu-karuan.
Sama halnya saat kita berpuasa. Berjam-jam kerongkongan kita kering, perut kosong, badan lemes. Dan momentum nikmat itu berlangsung ketika seteguk teh hangat manis membasahi kerongkongan saat berbuka. Cukup seteguk saja, nikmatnya luar biasa. Tanpa harus di jejali sepotong pizza, anggur, semangka atau sekotak kue nastar macam rasa.
Tetaplah prihatin dalam keberadaan.
Dan tetaplah 'berpuasa' dalam keberlimpahan.



@MuhammadonaSetiawan

Selasa, 01 Desember 2015

Sajak - "Sajak Rahasia"


" Sajak Rahasia "


Dia perkasa namun lembut
Ia pinjamkan keperkasaan pada Adam
Ia titipkan kelembutan ke sang hawa

Cahaya tak tampak
Namun yang tertimpanya kentara.
Suara tak terdengar
Hanya dalam sepi-sunyi suara di temukan

Duhai kelembutan,
Kelembutan senantiasa tersembunyi.
Cahaya tak tampak
Suara tak terdengar
Begitu pula keindahan.

Sebuah prasasti sebagai pengantar keindahan.
Sebait puisi adalah tempat rahasia keindahan.
Sealun lagu menjadi satu cara mengungkap keindahan.

Demikian sejatinya Ia,
Kelembutan, keindahan dan perempuan.
Senantiasa menyembunyikan diri dalam rahasia
Sebab demikian itu syarat mutlak keagungannya


@MuhammadonaSetiawan

Minggu, 22 November 2015

Puisi - "Tuhan pun Berpuisi"


"Tuhan pun Berpuisi"



"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Kenapa Tuhan tidak bilang;
Ini semua nikmatKu, gila kalian jika mendustakan!
Tuhan tidak berkata demikian."

"Jangan dekati zina.."

Kenapa Tuhan tak bilang saja;
Manusia di larang berzina, titik!
Tuhan tidak bersikap demikian."

Sebab Tuhan berpuisi
Dia 'bicara' dengan kiasan
Sarat makna yang tersimpan

Sedang Tuhan pun berpuisi
Lalu kenapa kalian keras hati
Jadilah manusia 'puisi'
Sebarkan kasih-sayang dan keindahan.



@MuhammadonaSetiawan



Senin, 16 November 2015

Esai - " Sinau Lirik Letto "


" Sinau Lirik Letto "



Setiap mendengar lagu-lagu dari band Letto, entah kenapa selalu membuatku mengernyitkan dahi dan diam sejenak. Kernyitan dahiku adalah bentuk rasa heran dan ketidakfahamanku serta diamku adalah berfikir, mencoba memahami apa maksud dari setiap baris lirik yang tertulis. Buat saya memang tidak cukup sekali mendengar lagu Letto agar saya bisa tahu makna apa yang terkandung di dalamnya, perlu mendengar berulang-ulang kali agar saya mampu mencernanya, minimal itu versi saya. Itu semua tidak lepas dari seorang lelaki genius yang paling berperan dalam membuat lagu dan menulis lirik di hampir semua lagu karya Letto selama ini. Dialah Sabrang Mowo Damar Panuluh atau kita lebih mengenalnya dengan nama Noe Letto sang vocalis band asal Jogja tersebut.
Kepiawaian Noe dalam menulis lirik lagu memang sudah tidak di ragukan lagi, selain ia mengenyam dan lulus pendidikan perguruan tinggi di Canada, Noe lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang agamis, berbudaya dan berintelektual tinggi. Seperti kita ketahui bersama di mana ayahanda Noe adalah seorang budayawan besar di Indonesia sekaligus sang kyai walaupun beliau tidak mau di sebut kyai. Emha Ainun Nadjib atau yang akrab di sapa Cak Nun sebagai seorang ayah telah mewarisi darah seni pada sang anak dan menularkan kecerdasan logika, kepekaan rasa dan nilai sosial.
Hampir semua lagu-lagu letto tersaji indah dan sarat makna. Ada beberapa nomor yang saya suka, baik dari sisi aransemen nada maupun bait lirik-liriknya, di antaranya; Sebelum cahaya, Sandaran hati, Memiliki kehilangan dan Fatwa hati. Tak di pungkiri memang jika sebuah lagu adalah bahasa yang universal, tidak ada ketentuan baku untuk menginterpretasikannya, setiap orang berhak untuk menilai dengan cara pandang mereka masing-masing. Begitu juga saya, di sini saya akan mencoba bertindak sebagai penikmat dan pelaku musik, saya akan coba memaparkan apa yang bisa saya tangkap di balik lirik lagu-lagu Letto versi kacamata saya pribadi.
Yang pertama adalah nomor Sebelum Cahaya, melihat judul lagu ini saja kita sudah di "paksa" untuk berfikir, ada dua kata pada judul di atas; sebelum dan cahaya, kata sebelum mungkin mudah untuk kita pahami tapi untuk kata cahaya, kita harus jeli menimbang-nimbang lagi, kata cahaya di atas mengandung banyak arti menurut saya, sebelum saya memaparkan makna lirik versi saya, mari kita baca dengan seksama penggalan lirik lagu "Sebelum cahaya" berikut ini;
*
Ku teringat hati yang bertabur mimpi, kemana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri, kuatlah hati cinta
Reff
Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu cinta

Kekuatan hati yang berpegang janji, genggamlah tanganku cinta
Ku takkan pergi meninggalkanmu sendiri, temani hatimu cinta
*
Menurut saya, lirik di atas menggambarkan tentang dialog antara dua kubu, yaitu Aku dan cinta, di mana Aku di sini sebagai Tuhan sedangkan cinta adalah makhluk yang di cintai Tuhan, lalu pertanyaannya adalah siapakah makhluk yang paling di cintai Tuhan?? Dan saya memilih satu nama yaitu baginda nabi besar Muhammad SAW sebagai makhluk yang paling di cintai oleh Allah SWT. Kemudian dalam sebuah malam Allah memperjalankan Baginda nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa kemudian di naikkan menuju Sidratul Muntaha untuk mendapatkan wahyu langsung dari Allah tentang perintah sholat 5 waktu. Muhammad yang seorang manusia biasa tentu merasa takut saat perjalanan spiritual nan magis itu tapi Allah meyakinkan pada Nabi jika Dia (Allah) tidak akan membiarkan cinta-Nya sendiri, Dia kan selalu menemani perjalanannya. Jadi bisa saya simpulkan bahwa makna judul sebelum cahaya adalah sebuah malam buta sebelum munculnya cahaya yaitu sinar surya. Dan pada malam buta itu terjadi peristiwa maha penting ketika Rasul melakukan perjalanan sunyi yang kita kenal dengan istilah Isra' Miraj. Bagi saya sangat luar biasa makna yang tersirat dalam lirik lagu Sebelum cahaya.

Yang kedua adalah lagu berjudul Sandaran hati, kebanyakan dari kita jika bicara tentang sandaran hati atau sejenisnya maka kita selalu beranggapan jika yang di sebut sandaran hati adalah seorang kekasih hati atau pasangan hidup kita. Memang tidak ada yang salah dengan anggapan itu, namun lirik dalam lagu Sandaran hati dari Letto memiliki makna yang lebih dari itu, mari kita simak liriknya berikut ini;
**
Yakinkah ku berdiri di hampa tanpa tepi bolehkah aku mendengarmu
Terkubur dalam emosi tak bisa bersembunyi aku dan nafasku merindukanmu
Terpurukku di sini teraniaya sepi dan ku tahu pasti kau menemaniku
Dalam hidupku kesendirianku
Reff
Teringat ku teringat pada janjimu ku terikat hanya sekejap ku berdiri ku lakukan sepenuh hati
Peduli ku peduli siang dan malam yang berganti sedihku ini tak ada arti jika kaulah sandaran hati

Inikah yang kau mau benarkah ini jalanmu hanyalah engkau yang ku tuju
Pegang erat tanganku bimbing langkah kakiku aku hilang arah tanpa hadirmu
Dalam gelapnya malam hariku
**

Menurut saya lirik di atas lebih menjelaskan tentang seorang manusia sebagai hamba dan Allah sebagai Tuhan-Nya. Hidup di dunia ini tentu banyak lika-likunya, berbagai cobaan, ujian bahkan musibah seringkali menghampiri kita. Saat kita jatuh dan terpuruk dalam menjalani hidup maka hanya ada satu cara agar kita tetap bisa survive. Yaitu kembali mengingat, mengimani dan percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah, Dialah yang menggenggam hidup, rezeki, jodoh dan mati kita. Kita ingat dan ikat hati kita dengan kalimat syahadat, lalu kita dirikan sholat pada siang dan malam dengan sepenuh hati sebagai bentuk penghambaan kita. Dan tak lupa terus berdoa memohon petunjuk agar langkah kaki kita di bimbing ke jalan lurus-Nya. Pada intinya segala kesedihan dan kesusahan hidup kita ini tidak akan berarti jika Allah lah yang menjadi sandaran hati hidup kita, kini dan selamanya.
Mungkin seperti itulah benang merah yang bisa saya tarik dari lagu Sandaran Hati.

Lagu yang ketiga berjudul Memiliki kehilangan, judul lagu ini sangat menggelitik hati saya, mari kita telaah bersama-sama lirik di bawah ini;
***
Tak mampu melepasnya walau sudah tak ada
Matimu tetap merasa masih memilikinya
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya
Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya
***

Lagu ini sangat syahdu mengalun, sangat memanjakan telinga dan suasana jika kita mendengarnya, terlebih saat malam hari tiba. Menurut saya poin penting dari lagu Memiliki kehilangan terdapat pada bait lirik; " Rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya". Hal ini mengajarkan kita tentang nilai yang teramat mahal, yaitu kita sebagai manusia sejatinya memang tak memiliki apa-apa, semua yang melekat pada diri kita adalah milik Allah sepenuhnya yang di titipkan kepada kita. Mata, telinga, mulut, tangan, jantung, hati, kaki kita adalah kepunyaan-Nya. Harta, tahta dan nyawa kita juga semua milik Allah Ta'alla. Lalu bagaimana mungkin kita merasa memiliki itu semua, kita hanya sekedar di titipi sementara, iya sementara. Jika kita di titipi maka tugas kita hanya satu, menjaga dan merawat titipan itu. Jika suatu saat titipan tersebut di ambil oleh "pemilik asli" nya, maka kita harus legowo mengembalikannya. Jangan pernah merasa memiliki apapun jika kita tak ingin merasakan apa yang namanya kehilangan, semakin kita merasa memiliki sesuatu maka potensi rasa kehilangannya pun semakin besar. Manusia hadir di dunia dengan keadaan telanjang, dan matinya pun hanya akan di balut kain selembar.

Dan lagu terakhir yang ingin saya coba gali maknannya adalah lagu berjudul Fatwa hati. Di republik ini mungkin hanya ada satu lembaga/ instansi yang boleh mengeluarkan fatwa yaitu MUI (Majelis Ulama Indonesia) namun di lagu ini hati juga boleh berfatwa bahkan harus. Mari kita pahami lirik Fatwa hati berikut ini;
****
Sebelum tiba waktu senja
Ku genggam tanganmu dan bertanya
Apakah bisa kau membawa
Rasa yang engkau punya selamanya
Reff
Tentang kita dan tentang cinta
Tentang janji yang kau bawa
Jika nanti saat kau sendiri
Temukan ku di fatwa hatimu
-
Kan datang waktu di hari nanti
Saat kau merasa tak menentu
Jangan kau bimbang pada waktu
Akan ku ingatkan kepadamu
****
Jujur sampai sekarang, saya masih meraba-raba mencari makna apa yang terkandung di dalam lirik lagu Fatwa hati, liriknya begitu manis dan sedikit misterius bagi saya. Jika Sebelum cahaya adalah waktu malam hari, maka Fatwa hati ini settingnya pada sore hari alias senja. Jadi Fatwa hati dan Sebelum cahaya ada korelasinya, di mana Fatwa hati terjadi Sebelum cahaya. Sampai di sini, apakah masih bisa di pahami?? Oke begini maksud saya, jika Sebelum cahaya terdapat peristiwa Maha penting yaitu Isra' Miraj maka dalam Fatwa hati juga ada moment bersejarah di dalamnya. Moment tersebut adalah ketika Allah hendak mengangkat Muhammad menjadi rasul pada usia 40 tahun, menginjak usia senja beliau. Atas perintah Allah SWT, jibril di utus untuk menemui Muhammad di gua Hira' dan di berikanlah wahyu pertama kepada Muhammad yaitu Iqra'/ bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Surat Al Alaq ayat 1-5 menjadi wahyu sekaligus tugas pertama Muhammad mengemban tugas sebagai Rasul Allah. Tugas Rasul adalah menyampaikan kebenaran dan memberi peringatan kepada seluruh umat manusia, dan hal ini bukanlah perkara mudah pada jaman jahiliyah dulu. Rasul berdakwah secara sembunyi dan terang-terangan. Berbagai hinaan, pelecehan bahkan ancaman pembunuhan kerap di terima Rasul saat beliau berdakwah. Tentu beliau juga merasa ragu, cemas dan takut, dengan reaksi umat pada saat itu. Maka Allah meyakinkan beliau agar tak ragu untuk terus mendakwahkan ajaran islam dan kebenaran, temukan Aku (Allah) dalam fatwa hatimu, sebab Allah akan selalu mendampingi sampai tugas kerasulannya selesai.

Demikianlah, yang bisa saya gali dan saya sampaikan perihal makna dan nilai yang terkandung dalam beberapa nomor lagu karya Letto. Mohon maaf jika saya lancang, banyak kekurangan dan kesalahan, sebab ini hanya sebatas pemikiran saya yang awam, bodoh dan fakir ilmu. Dan semoga sekelumit tulisan ini bisa memberi sedikit manfaat terutama buat saya pribadi dan teman-teman yang berkenan membacanya.
Salam hormat saya kepada mas Noe dan band Letto, terimakasih atas nilai dan ilmunya, tak lupa juga salam hormat dan cinta saya kepada Ayahanda Emha Ainun Nadjib atas segala inspirasinya.

Wassalam



@MuhammadonaSetiawan

Selasa, 10 November 2015

Esai - "Belajar Dari Rendra"


" Belajar dari Rendra "



Mungkin tak banyak yang tahu, jika 80 tahun silam di atas bumi Nusantara ini, telah lahir seorang figur bertalenta besar. Terlahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto atau lebih dikenal dengan nama WS Rendra. Seniman kelahiran Solo, 07 November 1935 ini terlahir sebagai penganut Katholik.

WS Rendra yang juga di juluki si 'Burung Merak' memutuskan menjadi mualaf dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai seorang muslim.

Rendra banyak mengenal Islam dari istrinya tercinta, seorang putri Keraton Prabuningratan, Nyai Sitoresmi Prabuningrat, hingga akhirnya Ia mengucap dua kalimat syahadat.

" Sebagai seorang penyair, Rendra memiliki cara pandang yang luas mengenai agama. Ia begitu cerdas dan tidak terkungkung oleh teks dalam mendiskripsikannya.

Rendra juga tak memahami agama sebagai sebuah simbolisasi. Baginya, Islam adalah rahmat sekalian alam (Rahmatan lil'alamiin). Tidak pernah mengecilkan suatu hal yang sekecil apapun.
Rendra adalah sastrawan besar milik bangsa ini, tapi Ia sosok yang kecil, menyerah, tulus dan ikhlas ketika harus berhadapan dengan garis Illahi.

"Keberaniannya seketika hilang, dalam kesendiriannya saat berhadapan dengan Tuhan."

Suatu hari Rendra pernah berbicara kepada salah satu sahabat dekatnya; Eep Saefullah Fatah, bahwa dirinya telah 'bertemu' dengan Tuhan. Kejadian itu terjadi saat Rendra menjalani ibadah haji.

Saat menjalankan ibadah haji, dia merasa setiap kali minum air atau apa saja yang diminumnya, bahkan air zam-zam sekali pun, dia merasa seperti meminum minuman keras, Chevas Regal  yang merupakan minuman favoritnya. Kebingungan pun menyelimuti Rendra. Akhirnya, kejadian aneh itu baru selesai saat dia usai menjalani ibadah haji, dan dalam penerbangan dari Jeddah ke Amsterdam, Belanda.

" Saat diberikan air putih di dalam pesawat, Rendra dengan lirih berdoa dan memohon kepada Allah untuk selesai menghukumnya. Kemudian, dia meminum air putih tersebut dan akhirnya merasakan rasa air putih yang sesungguhnya. Dia pun mengucap asma Allah dengan lantang hingga membuat satu pesawat terkejut akan teriakannya. Dari kejadian itu, dia berjanji untuk tidak menengguk kembali minuman keras. Itulah bagaimana cara Rendra mendefinisikan 'bertemu' Tuhan."

Bahkan karya terakhirnya pun sangat religius dan mendalam. Puisi tersebut menyampaikan bagaimana seorang hamba yang pasrah dan ingin kembali kepada penciptanya.

Puisi tersebut dibuat pada 31 Juli 2009, enam hari sebelum Rendra berpulang pada 6 Agustus 2009.

Berikut petikan puisi terakhir Rendra.


Aku lemas
Tapi berdaya...
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku ingin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku ingin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu.


" Terimakasih bung, atas keberanian dan kepasrahan yang tlah kau ajarkan kepada kami."


Salam damai



@MuhammadonaSetiawan

Senin, 09 November 2015

Esai - "Menyempurnakan Keikhlasan"


" Menyempurnakan Keikhlasan "



Ada seorang Kakek berjalan di tengah pasar dengan membawa koper berukuran cukup besar dan sedikit kumal. Ia berjalan pelan dan sangat hati-hati sebab tanah di area pasar licin usai di guyur hujan semalaman.

Sang kakek memakai baju batik sederhana, celana panjang hitam dan sepatu kulit hitam pula. Dan saking licinnya tanah atau dasar ketiban sial, sang kakek terpeleset dan tas kopernya pun jatuh, terbuka, dan isinya terhambur keluar.

Isi koper kumal itu ternyata beratus-ratus lembaran uang lima ribuan.

Tanpa sadar orang-orang yang lalu lalang di pasar dan para pedagang di sekitar situ langsung menyerbu dan memunguti lembaran-lembaran uang yang berhamburan itu.

Si kakek setengah teriak-teriak dan mengaduh.

Kemudian ia menangis sejadinya dan menutupi mukanya. “Uang saya di ambil orang! Uang saya di kroyok orang...”, sambatnya.

Tidak ada orang yang memperhatikan dan mempedulikannya, sampai akhirnya tak ada orang tahu kemana sang Kakek menghilang.

Ternyata sang Kakek sengaja. Ia ingin beramal, tapi jangan sampai ketahuan kalau beramal. Ia 'etok-etok' menangis dan eman uangnya hilang, agar tak seorang pun menyangka bahwa sebenarnya ia sengaja melakukan itu. Ia ingin menyempurnakan keikhlasannya.

Sang kakek yang saya ceritakan ini sangat tinggi derajatnya di mata Allah dan beda jauh dengan saya, jauh sekali.

Level saya masih pada strata 'sinau' keikhlasan, berusaha selalu memberi 'sesuatu' yang baik. Celakanya, memberi/ membagi 'sesuatu' itu tidak mungkin dengan menyembunyikannya, melainkan justru harus memperlihatkannya.

Maka maafkanlah saya.., maklumi saya..,, doa yang 'pantas' saya panjatkan adalah; Ya Allah, Ya Ghaffaar.., nilailah apa saja yang saya lakukan ini sebagai riya’ dan sombong, sehingga Engkau membatalkan ganjaranMu atasku. Karena dengan tiadanya tabungan pahala itu insyaAlloh saya menjadi lebih bersemangat untuk tetap terus mencoba menabung pahala, kebaikan dan kemuliaan.."



@MuhammadonaSetiawan

Minggu, 08 November 2015

Cerpen - " Sweet Seventy Walang Kekek "


" Sweet Seventy Walang Kekek "




Haru, ya perasaan itu yang mendadak menyeruak dalam bathin saya. Sekujur tubuh ini merinding, ketika saya menyalami dan menciumi punggung telapak tangannya berulang kali. Sesaat kemudian saya di persilakan duduk di sofa, bola mata saya berkaca sembari menepuk-nepuk pipi kanan-kiri, seolah masih tak percaya jika hari ini saya bisa bertemu, bertatap muka langsung dengan seorang legenda.

Tepatnya kemarin petang sekitar pukul 15.00 WIB, saya sowan silaturahim ke dalemipun Eyang Waldjinah di daerah Mangkuyudan, Solo. Tujuan saya kesana adalah untuk memberi ucapan selamat ulang tahun kagem Eyang, dimana pada hari sabtu tanggal 07 November 2015 kemarin, sang 'ratu' keroncong itu genap berusia 70 tahun. Tak lupa, saya bawakan sekotak 'oleh-oleh' sebagai kado rasa terimakasih dan cinta saya kepada beliau.

Sore itu, Eyang mengenakan daster motif bunga sederhana, seraya menyambut saya dengan senyum ramah. Di temani salah satu putranya; Mas Ari, kami bertiga langsung berbincang akrab dan hangat.

" Eyang apa kabar?"
" Alhamdulillah sehat, baik, adik dari mana?"
"Saya saking Sragen Eyang, ngapunten sudah ganggu istirahat Eyang."
" Ora opo-opo, makasih dah mau kesini."
" Ngapunten, Eyang ketingale agak kurusan njeh?"
" Iya, wolong sasi ndak doyan mangan, sampek di infus barang (sambil menyodorkan lengan kirinya ke arah saya)

Kemudian mas Ari menjelaskan, jika selama kurun 8 bulan, kesehatan Eyang turun drastis. Beliau ndak doyan makan, harus rajin minum obat dan kontrol rutin ke Dokter. Dan itulah yang menyebabkan Eyang tampak kuru sekarang.

"Tapi Alhamdulillah wis sehat kok, sitik-sitik gelem mangan (celetuk Eyang dengan nada sumringah)

...kami spontan tertawa....

Saya memang cukup kaget melihat kondisi Eyang yang sekarang. Tak di pungkiri usianya kini memang sudah 'senja', kulit wajahnya tampak keriput dan empuk, rambutnya hampir memutih semua, bicaranya pun pelan dan terbata. Namun ada satu yang tetap tidak berubah dari diri Eyang, yaitu keramahan dan guyon nya. Saat beliau bertutur, selalu saja ada hal yang menggelitik dan mengundang tawa bagi orang yang mendengarnya. Sungguh sang 'ratu' yang humble dan patut untuk kita teladani bersama.

Terus saya ngguyoni;
"Eyang masih saget nembang?"
"Yo iso tapi alon-alon, ora iso mbengok."
" Hehee.., kita duet sedikit lagu Walang kekek bisa Eyang?"

Dan kita berdua pun bersautan menyanyikan beberapa bait lirik tembang "Walang kekek"

* Walang kekek menclok ning tenggok
Mabur maneh menclok ning pari
Ojo ngenyek yo mas karo wong wedok
Yen di tinggal lungo setengah mati
E ya iyo ya iya e ya iyo yae yae o e yae o
Omah gendéng yo mas tak saponane
Abot enteng tak lakonane...

Usai bernyanyi, tak terasa pelupuk mata saya sudah basah dengan sendirinya. Suara Eyang itu memang 'emas', sudah indah dari 'sononya'. Terimakasih Eyang sudah mau nyanyi bareng njeh, puji saya.

Oh ya, sejenak saya keluar mengambil sesuatu di motor. Saya sengaja membawakan seporsi serabi Notosuman, spesial buat Eyang. Dan Alamdulillah kata mas Ari, Eyang masih di perbolehkan untuk makan yang manis-manis, pantangannya cuma satu; ndak boleh makan pedes.

Mas Ari juga menyampaikan kepada saya, bahwa saat ini Ia sedang menjalin komunikasi dengan pihak Dinas Pendidikan terkait serta anggota DPRD kota Surakarta untuk berupaya bersama-sama melestarikan seni budaya lokal khususnya seni musik keroncong dan langgam jawa. Mas Ari juga berharap agar pemerintah setempat membuat sebuah fasilitas publik yang bersifat fisik dan non fisik yang mana kontennya berisikan informasi, pustaka/ koleksi dan juga edukasi. Sehingga masyarakat luas bisa mengenal, tahu dan 'sinau' tentang apa itu seni keroncong, langgam, gamelan dan seni budaya lokal lainnya beserta para pelaku seninya. Mas Ari juga bercita-cita dan terus memperjuangkan agar seni keroncong bisa 'masuk' ke dalam sekolah-sekolah untuk menjadi ekstra kurikuler/ muatan lokal.


Saya sangat antusias mendengar  cerita dari mas Ari dan turut mengaminkannya. Para generasi bangsa memang harus di kenalkan pada budaya lokal yang aseli Indonesia. Jangan hanya di cekoki dengan seni modern atau 'barang' impor saja. Jangan bangga jika fasih menyanyikan lagu bahasa Inggris akan tetapi di suruh nyanyi tembang jawa malah meringis. Bukan berarti kita tidak 'open' pada musik luar, silakan saja untuk mendengar genre musik apapun, silakan juga kalau mau mengidolakan Metallica, Madonna, Katty Perry, Super Junior, Noah, Raisa dan artis-artis papan atas lainnya. Namun satu yang penting dan jangan di lupakan adalah kita mestinya juga harus mau belajar dan peduli untuk 'nguri-uri' seni budaya lokal aseli, karena kalau bukan kita siapa lagi. Seyogianya kita lebih bangga dan mengidolakan seorang seniman lokal seperti; Gesang, Manthous, Waldjinah dan nama besar lainnya. Jangan sampai 'kasus' Reog Ponorogo terulang lagi. Kita baru ribut dan mencak-mencak ketika ada negara lain yang mengklaim seni musik keroncong adalah warisan budaya mereka, namun di sisi lain kita yang memilikinya justru bersikap apatis dan masa bodoh. Jangan sampai itu terjadi!

Dan di akhir pertemuan singkat nan mengesankan itu, saya meminta 'hadiah' kepada Eyang untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan yang tak kan terlupakan selamanya. Sepindah maleh kulo ucapaken; sugeng enggal warso Eyang Waldjinah yang ke-70, mugi-mugi tansah di paringi kesarasan lan kebahagiaan fidunya-akherat. Matursuwun sanget atas segala karya cinta, keindahan dan kesyahduan yang telah Eyang persembahkan untuk negeri ini selama setengah abad lebih. Semoga Allah senantiasa membalas dengan kebaikan cinta-Nya pula, Amiin.


We love u Eyang


Cucumu

@MuhammadonaSetiawan

Jumat, 06 November 2015

Sajak - "Sajak Asmara"


" Sajak Asmara "



Kau adalah kembang yang harus ku tanam |
Dan kau keharuman yang mesti ku cium dalam-dalam, sendirian |

Kau adalah puisi yang mesti ku rangkai |
Dan kau keindahan yang mesti ku bingkai, sendirian |

Kau adalah perahu yang sedang ku dayung |
Dan kau bentang lautan yang sedang ku arung, sendirian |

Merindumu adalah hobi keduaku, yang pertama mencintaimu |



@Muhammadona

Minggu, 01 November 2015

Esai - " Pada Akhirnya "


" Pada Akhirnya "



Sekarang ini banyak terjadi di masyarakat kita, baik di kehidupan nyata maupun maya (media sosial), orang gemar sekali mencaci maki orang lain, menuduh golongan lain sesat, kafir, dan mesti di hanguskan dari muka bumi. Padahal manusia tidak punya hak menghakimi dan mengadili sesama manusia. Tidak ada garansi apapun, bagi si penuduh atau tertuduh apakah ia sesat apa tidak, kafir atau tidak. Yang ada hanya upaya berikut doa untuk sama-sama menjauh dari kesesatan, bersama menuju kelurusan.
Tahukah kenapa damai-sejahtera minggat dari bumi kita?
Sadarkah mengapa kegelapan yang kini justru menyelubungi negeri kita?
Simpel saja: karena kita bangsa yang ciut, kita adalah bangsa yang kecut akan perbedaan!
Perkataanku ini mungkin tak enak terdengar oleh sebagian kecil orang, sebagian besar atau bahkan keseluruhan.
Tapi maaf dengan segala hormat, tetap akan aku tuturkan;
Kita akui perbedaan hanya sebatas tontonan saja,
Berbeda mata menyandra kita
Berbeda warna membelah kita
Berbeda rambut mencerabut kita
Berbeda pendapat menyayat kita
Berbeda agama membuat kita porak poranda
Dan sampai berbeda kelamin pun meresahkan kita!
Kita berdebat kusir pada sesuatu yang murah, remah-remah, bau sampah!
Kita bersitegang untuk hal-hal yang sepele, bertele-tele, cece-reye
Kita enggan menyelam di kedalaman!
Kawan, aku tak takut berbeda, tidak benci perbedaan!
Aku tak takut dengan berbedanya kalian dari aku, karena sebagianku adalah kalian, sebagian kalian adalah aku.
Mari kita hadirkan kegembiraan dalam keberagaman.
Kita lebur warna, budaya, bangsa, impian, pemikiran, dan keyakinan agar tiada lagi yang kasat mata di antara kita, kecuali manusia!

Pada akhirnya hanya satu yang akan dikenang dan abadi di hati, yaitu kontribusi nyata kita untuk ilmu dan umat; bukan caci-maki, fitnah, benci, kafir-mengkafirkan, bid'ah -membid'ahkan dan perselingkuhan dengan penguasa untuk membungkam mereka yang berbeda. Jangan mengaku manusia jika masih menyakiti manusia. Jangan ngaku beragama jika masih mengutuk agama yang lainnya. Kita semua akan dihakimi oleh sejarah peradaban umat sebelum kelak akan benar-benar berhadapan dengan Sang Maha Hakim sebenarnya.
Teruslah berkarya, mencintai dan mengabdi pada ilmu dan umat raya!


@MuhammadonaSetiawan